Redaksional. Ya, redaksional. Akhirnya tiba juga hari ini. Hari dimana redaksional begitu dipersoalkan.
Ya. Saya manusia yang tidak-atau belum memiliki redaksional. Sejauh ini membiarkan semua disekeliling saya berjalan tanpa redaksi. Tanpa aturan basa-basi kata saya. Namun, saya sadar betul akan ada saat dimana saya akan terbentur redaksional-atau setidaknya berurusan dengan yang satu itu. Saya selalu berpikir, manusia hidup terlahir dalam status yang sama. Tiap individu berlaku sesuai dengan tempaan yang dialaminya. Lantas kenapa harus disama ratakan, diredaksionalkan. Agar tertata. Agar semua siklus terjaga. Agar tidak ada yang tersakiti. Agar tidak saling menyalahi. Baiklah. Saya ikut redaksionalnya.
Tapi, apa iya?
Apa iya dengan redaksional semua akan tertata? Mungkin yang dimaksud segala yang tampak mata.
Apa iya dengan redaksional semua siklus terjaga? Mungkin, setidaknya siklus etika, norma dan tata krama.
Apa iya dengan redaksional tidak ada yang tersakiti? Mungkin, satu ini jawabannya relatif sekali.
Apa iya dengan redaksional tidak ada yang saling menyalahi? Mungkin, entah kenapa, hanya ingin menjawab mungkin.
Pada akhirnya semuanya hanya sekumpulan kemungkinan. Sekumpulan mungkin.
Yah..mungkin postingan saya kali ini begitu penuh kemungkinan.
Mungkin memang begitu.
Iya, mungkin.
Hanya mungkin.
Senin, 31 Oktober 2016
Redaksional
Sabtu, 22 Oktober 2016
Sabtu, 01 Oktober 2016
Sepuluh Minggu
Mendekati akhir trimester pertama.
Begitu banyak pertanyaan.
Apa aq sudah memberimu nutrisi cukup?
Apa kamu nyaman di dalam sana?
Kamu lagi apa?
Apa kamu tumbuh dengan bahagia?
Kenapa berombak nya malam sayang?
Apa kamu mengira malam adalah pagi..dan sebaliknya-bukankah biasanya morning sickness..dan kamu malah habis mahrib sickness..hihi..kamu lucu.
Kamu suka apa?
Sebentar lagi-kata beberapa literatur kamu akan bisa mendengar..kamu mau dengerin apa?
Suara kakak keras lo..jangan kaget ya..
Suka musik klasik? Atau mau jazz aja..seperti biasanya..nanti ibuk bersih"playlist dc..dunlut lagu kesukaan kamu n kakak..dan nampaknya kamu sudah berdamai dengan Sheila on7 ya dek-mengingat awal"hamil mual banget denger lagu mereka.
Tidur kamu cukup?
Apa di dalam cukup luas?
Atau ibuk perlu makan lebih banyak lagi-tapi please kooperatif ya..jangan dikeluarin lagi?
Kamu suka ngampus?
Apa nggak papa kalo nemenin ibuk baca jurnal malam"lepas kakak tidur-sudah mulai ada beberapa tugas ni dek?
Suka masak ya dek?
Masakan ibuk absurd kan..kok kamu doyan?
Obat-obat ibuk pahit ya-maaf?
Tapi warna kapsul n kaplet nya lucu kok dek..kamu suka kan liatnya?
Gerah nggak di dalam?
Kalo dikipasin berasa sampe ke dalam nggak?
Kamu lapar?
Kamu suka rasa apa..coklat..stroberi..melon..kacang ijo..delima..kacang merah..atau...jangan bilang sarsaparilla n kopi..hihi?
Kamu kuat kan dek-bertahan ya disana..
Abis ini kamu tumbuh makin besar..
Bakal mirip siapa coba..hihi...
Kalo pingin apa-apa kasi kode aja..
Can you feel my love?
Besok beli padang ya..
Bukan pertama kali..tapi rasanya masih terus berusaha mengenali..dan masih harus banyak beradaptasi..maafin ibuk ya..kalo kurang bisa mengerti..kita bertumbuh sama-sama ya dek..sehat terus.
I'll try my best.
(:
With love.
Your super silly duduls Moms.
*While my lovely little Sea..growing inside of me..and my lovely little Sky sleeping beside me.
Selasa, 20 September 2016
Wisanggeni
Wisanggeni berhak ugal-ugalan. Dia diperlakukan tidak adil sejak di kandungan. Toh dia cuma bangsat di luar, dia asli nasionalis sejati.
Kenapa #wisanggeni ugal-ugalan, supaya sopan santun tidak digunakan untuk menipu. Menipu dengan sopan. Dia anti yg begitu-begitu.
Yang bisa dekat dengan #wisanggeni cuma mereka yang gak takut api. Yang cari aman dan ikut senang, gak usah ngaku-aku. Malu.
Yang ingin ketemu #wisanggeni, harus berani disakiti. Yang lalu berani sembuh pun tumbuh dan tetap bisa jatuh cinta.
Wisanggeni senang menyendiri, tapi tidak masalah dengan keramaian. Di Megamalang, mendung yang melintang, di sana dia biasa ngaso.
Dari sana semua tempat terpencil bisa kentara, yang tertutup menjadi terbuka, maka tidak heran pemuda itu demikian lugasnya.
Wisanggeni adalah inti api yang luwes, membakar yang perlu, dan mematangkan.
Wisanggeni pernah Debat hebat dengan Kresna di usia yang amat muda.
Kresna pernah bertanya. Wisanggeni, adakah yang kautakuti? Anak muda itu menjawab, banyak. Tapi selalu kutantang mereka.
Wisanggeni pernah takut pertanyaannya tak terjawab. Siapa ayahnya. Dan semua pemilik jawaban ditantangnya terang-terangan.
Wisanggeni pernah takut tak memiliki ketakutan lagi. Kresna menantangnya di hari menjelang Baratayuda. Merelakan kemenangan.
Tidak cukup menakutkan buat Wisanggeni. Ternyata ketakutannya bukan itu. Cuma satu. Takut tidak berguna.
Hidup sekedar mampir minum? Buat Wisanggeni, plus mampir main-main. Terlalu tahu justru bikin bosan. Mari bermain.
Kepolosan layaknya masa kanakmu, pertahankan itu, teriak Wisanggeni kepada Anoman suatu kali. Kera yang sudah amat tua.
Pada pemuda ini kita belajar soal jangka, jari-jari lingkaran. Jangan mengumpat kalau kupingmu masih panas saat diumpat balik.
Tua muda itu soal waktu saja. Tapi mempertahankan polos kanak adalah pilihan, apa gunanya pernah kanak kalau kemudian ingkar.
Benar memang, waktu kadang menunda kebenaran. Demikianlah, mau cepat harus siap lambat. Bergerak itu pangkalnya diam.
Kalau kau suka bermain, bermainlah dengan sungguh-sungguh, maka ada Wisanggeni dalam dirimu.
*Salam
#wisanggeni Oleh ki Nanang hape
Jumat, 16 September 2016
Pada suatu ketika
Dari jam sembilan pagi sampai jam satu siang ini.
Dari mual..tidak mual..mual..lapar..lalu kenyang..lalu mual..dan sekarang tidak terlalu mual.
Dari sampai..pindah birokrasi..lalu antri..periksa..diinterogasi..trus gelar barang bukti.
Menanti kepastian..izin untuk memiliki buah cinta satu lagi.
Bersyukur sekali-meski tak kupungkiri awalnya banyak sekali pertanyaan kenapa begitu kenapa begini, kenapa saat ini lalu menangis di pagi dini hari.
Ya..giliranku sebentar lagi.
Lima pasien lagi.
Dan dag dig dug ini rasanya makin tak terkendali.
Sesak nafas sesekali serasa ketemu si jaga portibi.
Huah..kebetulan..ini hujan tetiba datang deras sekali..seolah dikirim untuk menemani dan menenangkan hentakan mual yang tetiba menyerang lagi.
Kumohon dengan sangat.
Izinkan kumiliki satu lagi.
Di waktu yang sempat kukira akan jadi penghujung usiaku.
Di saat lelah setia kuhela tiap detik berlalu.
Di ketika cinta menabur benih yang paling jujur.
Kumohon.
Kali ini.
Saja.
Kamis, 08 September 2016
Jembatan Merah
Inilah kemegahan cinta yang tulen, yang pernah berakar; dan pernah berantakan, tapi kini kembali menggaung, karena nurani yang tidak pernah menyerah. Ia dipijak, dianiaya, diperkosa, dan dipaksa untuk mati, tapi tak pernah ia merasa kalah, tak pernah ia binasa...
Remy Sylado- Kembang Jepun.
Pertama kali baca novel nya pas SMP(sekitar 12th lalu) , nemu di perpustakaan sekolah. Lalu baca lagi pas SMA(sekitar 10th lalu), masi juga minjem di perpustakaan sekolah. Sekian (puluh) tahun berlalu akhirnya 30 Agustus 2016 kesampaian juga menginjakkan kaki di tempat ini. Konyol sih kata teman saya, kamu sudah sampai ujung Papua tapi Surabaya malah belum pernah, mengingat jarak Surabaya - Malang hanya sekian sentimeter di peta.
Hehehe....you don't get it.
Tempat-tempat seperti ini sakral buatku mamen..titik simulakrum. Mewah. Semacam jumpa fans dengan artis pujaan. Sesuatu yang begitu sureal tetiba so real. Tak ternilai. Baru sebanding kalo dipasrahkan ke momentum alami, kesadaran non lokal. Sesuatu yang asing tapi familiar. Aneh tapi nyata. Megah. Tapi bisa saja kan, tinggal dijadwalkan sebelum take off pergi kesini dulu, toh kamu bolak balik ke bandara belok mampir sebentar kan gampang, tinggal bilang. Yeah..say what you say..you don't get it my friend.
(:
*Akhirnya ke Jembatan Merah juga..dan kebetulan pas lagi baca karya Remy Sylado yang lain Perempuan Bernama Arjuna(filsafat dalam fiksi) baru separuh buku..see...awesome right...the power of kebetulan. Strange Atractor. Strange de Javu.
#me #love #jembatan #jembatanmerah #mystory#justthinking #kembangjepun
Selasa, 23 Agustus 2016
Love
I tried, I really did.
I used up every bit of myself, at least I can say I did that.
(stacie)
23.08.2016



