atas nama cinta
-mawar biru yang kesepian-
Selasa, 08 Mei 2012
Pagi salut selaput.,
"Ini apa?", tanyamu.
Kujawab dengan senyum termanisku.
"Ini kenapa?", tanyamu lagi.
Masih kujawab dengan senyum termanisku.
Satu persatu dentang itu pun berlalu, menyisakan aku tanpamu. Kanan kiri, atas bawah, depan belakang. Tergilas rona malu-malu di ufuk timur. Seketika terang memayungi mata-mata nanar terlupa mimpi, yang tak sempat memejam hingga terbit mentari.
Malam tanpa kopi selalu tak mudah untuk dilewati.
Selamat pagi.
^_^
March 17, 2012 at 4.53am
Kamis, 08 Desember 2011
Cerita Sebuah Perban.,

cerita sebuah perban...
sebuah bagian tubuh tlah terluka..berdarah..pedih..
perban menutup luka..melindungi kulit..agar tak berdarah..
waktu berlalu..
perban pun tak bagus lagi..terkoyak air..keringat..dan debu..
namun perban tetap menutup luka...
ketika luka tlah mengering...lalu sembuh..
perban pun harus dilepaskan..lalu di buang..
sang kulitpun sembuh nyaris tanpa bekas luka..
sang kulit kembali pada tubuh utuh yang sempurna..
sedang sang perban..?
sang perban terbuang..dan terlupakan..
dengan bekas darah luka dari sang kulit...
sang perban tersenyum...walau hancur..
"ini sudah takdirku",kata sang perban..
luka tlah sembuh..mengering..hilang tak berbekas..
perban tlah dilepas,dibuang,dan tak mungkin di kenang..
tapi ia tetap tersenyum...
bekas luka yang melekat...tak mungkin dapat terhapuskan..
hingga sang perban hancur termakan usia...
namun ia tetap tersenyum...
noi siamo tutti fratelli
*alumnus CUEK'S
Selasa, 26 April 2011
Hedging for a Long Term Heart Investment

Berhenti bergantung tak membuat kita buntung, namun paham akan nyawa yang beruntung. Berhenti bersandar tak akan mengakibatkan sorot nanar, namun mengakumulasi nyala api dalam diri. Berhenti berpegangan bukan lantas mengunci mati pergerakan hati, namun menstimulus sel-sel menjadi lebih bernyali. Berhenti meminta dukungan pasti tak menyebabkan kita luruh rapuh di jalanan, namun menempatkan diri pada posisi terpuji dengan mandiri.
Menemukan jalan sendiri, menyangkal diri tanpa melukai semata untuk kebahagiaan hati. Belajar berpikir secara utuh, mengenali secara utuh, bergerak secara utuh, menjadikan lidah kelu untuk sekadar kata mengeluh, akan tersaji justru jiwa rapuh dengan senyum yang tak pernah luruh, sekalipun hati nyaris melepuh.
Saat berpikir, berpikir untuk semua. Saat berbuat, berbuat untuk segalanya. Saat berbagi, berbagi tanpa residu materi.
Sebelum saat itu terpunyai, temukan dulu warna nadi dan miliki kekuatan untuk merelakan diri sendiri, sadar posisi di aneka situasi. Minimalisir bubble penyakit hati demi kekasih substansi yang abadi, yang akan memahami sekalipun DNA penyusun sel inti tak lebih dari seongok bakteri.
Lantas.
Berevolusi menjadi sosok bidadari fahmi yang kukagumi, lengkap dengan kesadaran proporsi sendiri, tanpa terluka kamuflase harapan kasih atau bahkan janji-janji lelaki tak tahu diri.
-redly note-
saat kembali distorsi
Senin, 04 April 2011
Satu tanya seorang mahasiswa.,
Dalam balutan AC PDB (Pusat Data Bisnis) hatiku tersabit.
Antara miris dengan keadaan sekitar, membicarakan segala yang pahit sambil tetap tersenyum naif.
'Akan jadi apa aku nanti ?'
financial staff/manager/analyst; manusiawi. Sesuai prodi. Aku juga sudah mengalami, meski dalam skala yang tak terlalu besar namun berarti-mengkalkulasi pendapatan puluhan karyawan yang punya suami, punya anak, istri ditandingkan dengan laporan laba rugi. Berjam-jam memasukkan transaksi keuangan harian berdasar bukti-bukti, BKK-BKM (Buku Kas Keluar-Buku Kas Masuk) yang kalau menelusurinya kubayangkan bisa membuat kacamataku lebih tebal beberapa mili lagi. Terkadang harus begadang di awal bulan agar karyawan bisa segera gajian-ini termasuk salah satu rutinitas paling kurindukan skarang.
Politikus; yang selalu mengacaukan semesta yang fiktif, meracaukan alur tujuan tanpa peduli kematian hak asasi. Ya, sejak kelas 4SD aku suka menyimak perkembangan hawa politik di sekitarku, menyenangkan. Koleksi buku-bukuku pun pun didominasi topik satu ini. Tapi apa aku tega, sikut kanan sikut kiri menerjang yang pasti untuk satu misi. Aku tak yakin, bermain di tataran kampus saja hatiku nyeri setengah mati.
Ataukah jd pendidik; yang selalu menuntut siswa aktif, kreatif tapi tak jarang mematikan inisiatif. Boleh juga, akan menyenangkan mengenal banyak orang dan menghabiskan waktu nyaris seharian untuk mentransfer aneka pengetahuan. Ataukah aku akan bergelut bosan dengan rutinitas yang sama tiap harinya-meskipun banyak hari liburnya.
Mungkin merambah ke perbankan; setiap hari memakai rok sepan, tersenyum sopan, dan kemungkinan besar tak akan pernah kelaparan. Tak buruk, tapi mungkin aku perlu kursus make up dulu-selama ini ke kampus pun jarang sempet pake bedak.
Bagaimana dengan pajak; banyak sub bagian menyenangkan di dalamnya. Meski perpajakanku dapet D-karena terlalu banyak bolos, aku suka mengutak atik-menghitung angka bernilai fana. Tapi aku akan diinjak, tak berani berharap muluk untuk prodi yang belum terakreditasi.
Bisnis; menjual diri semaksimal mungkin, mengandalkan koneksi tanpa batas hitungan jari. Dan jantungku kembang kempis akan aneka bahasa pemasaran yang persuasif namun tak jarang fiktif, tak sesuai etika bisnis.
Auditor; mengumpulkan bukti, menganalisa, menyimpulkan nyawa berjuta orang. Menyenangkan, bekerja tanpa batas waktu-kalau sudah berkeluarga, suamiku akan lama tak melihatku di bulan-bulan tertentu. Nego sana-sini, aneka godaan duniawi pasti tersaji. Aku perlu kuliah lagi untuk ini.
Arrgghhh...
Miris.
-redly note-
note ini aku coret di lembaran kertas salah satu copian Journal of Accounting & Business yang ku jadikan literatur tugas paper Fundamentals of Financial Management Part 2.,
waktu itu di pusat data bisnis ma Irene.,Cnyod.,Galong.,
July 21, 2009
Senin, 28 Maret 2011
Cerita Ksatria

Pada suatu hari ada ksatria terlahir ke dunia, semua bersyukur akan kelahiran sang ksatria. ksatria itupun lahir seperti apa adanya. jujur, polos, dan tak berpola...
Dalam proses pendewasaannya ksatria itu mendapatkan topeng, baju zirah, perisai, pedang, dan kuda dari lingkungan sekitarnya...
Selama bertahun2 sang ksatria nyaman dengan kondisi tersebut, sampai suatu saat ada seorang puteri yang mencoba menarik topengnya. Namun sang ksatria ragu dalam mengikuti sang puteri, sehingga sang puteri kecewa dan meninggalkan sang ksatria...
Suatu saat yang lain sang ksatria bertemu dengan seekor burung, burung yang membuat ksatria mulai memandang langit, makhluk yang melihat sang ksatria apa adanya, walau itu dengan topeng, baju zirah, perisai, pedang, bahkan dengan kuda yang masih ditungganginya...
Burung itupun menemani hari-hari sang ksatria, ada kalanya burung itu pergi, namun pergi untuk kembali, dan membuat sang ksatria terus memandang langit...
Sang ksatria terus nyaman atas kondisinya, kondisi di mana dia terus memakai topeng, baju zirah, perisai, pedang, bahkan dengan kuda yang masih ditungganginya. Suatu hari dia bertemu dengan sang penguasa daerah tersebut, tanpa meninggalkan sang burung sang ksatria mulai tertarik dengan sang penguasa, walau ada burung yang menemani, namun sang penguasa masih sangat dia kagumi, sang ksatria mencoba untuk tinggal. Namun sang ksatria lupa, sang burung tak selamanya diam.sang burungpun pergi ke langit, dan sang ksatria merasa sang burung akan sulit untuk kembali. Sang ksatriapun memutuskan untuk memulai lagi perjalanannya...
Saat melewati hutan yang bukan cuma padang rumput, ksatria mulai berpikir, bahwa kudanya tak lagi dapat ditunggangi. Jadi dia memutuskan untuk turun dari kuda, dan merubah cara berpetualangnya. Hutan itu ternyata lebih dalam dari yang diduga, dalam hutan yang penuh dengan meranti, dia merasa sangat nyaman. kenyamanan itu membuat sang ksatria tak lagi mencari sang burung, dan dia merasa burung itupun pasti akan selalu ada di langit. Kenyamanan itu tak bertahan lama, karena sang ksatria merasa tersesat. entah karena apa, dan kali ini sang ksatria yang memutuskan untuk meninggalkan hutan, namun tetap memakai topeng, baju zirah, dan pedang. sedangkan perisainya telah ditinggalkan...
Ksatria melangkah dengan goyah, sudah banyak yang dia tinggalkan. saat merasa tak dapat bergerak, datanglah sang burung kepadanya. Sang burung kembali memberinya harapan, kembali membuat sang ksatria memandang langit. Namun sang burung melihat adanya keanehan, sang ksatria tak lagi menunggang kuda, sang ksatria tak lagi memegang perisai, walau topeng dan baju zirah masih terpakai, dan sang ksatria masih setia pada pedang. Ksatriapun sulit mengenali sang burung, sang burung menjadi begitu anggun, begitu mulia, dan sang ksatria jadi merasa kecil...
Perjalanan terus dilakukan, sang ksatria dan sang burung menuju tujuan yang sama, langit yang sama, dan berusaha memegang konsistensi tujuan. Walau dengan jalan yang berbeda, langit yang mendung, tak lagi berdampingan. Tapi keduanya tahu bahwa tujuannya sama, dan berusaha menjaga cuaca supaya selalu cerah tak berawan...
Dalam perjalanannya, ksatria bertemu kupu-kupu, kupu-upu membuatnya kagum. Walaupun rapuh, kupu-kupu yang menariknya keluar dari kotak yang ada, yang membuatnya melepas topeng dan bersyukur atasnya. Kupu-kupu telah membuatnya membuka mata, kupu-kupu yang merefleksikan dirinya, yang membuatnya menjadi ksatria bebas walau menjunjung kesetiaannya pada pedang. Kupu-kuputelah membuat Ksatria menyadari kemampuannya, Kupu-kupu telah mengajari Ksatria akan arti kebebasan, Kupu-kupu telah membuat Ksatria mensyukuri makna "sayang"...
Kupu-kupu telah membuat ksatria banyak tersenyum, bahagia menjalani harinya yang spesial. tak lagi memakai topeng dengan penampilan yang sama, sang ksatria lebih ekspresif sekarang. Lebih menghargai hidup dan lebih erat memegang pedang dengan baju zirah yang ada. Kupu-kupu yang paling mengerti ksatria, kupu-kupu yang membuat ksatria berarti. ksatria tak lagi merasakan mendung, cerah selalu menaungi harinya bersama kupu-kupu. Ksatria tahu kupu-kupu tak terbang tinggi seperti burung, tak terbang tinggi menuju langit. Namun kupu-kupu selalu berjalan berdampingan dengan ksatria, saling mendekat sekalipun tak terbebat...
Semua memiliki makna, semua memiliki arti, melihat diri sepenuh hati. Setiap perjalanan memiliki tujuan, setiap tujuan menyimpan harapan. Ksatriapun memiliki harapan, harapan untuk mengerti dan dimengerti. Harapan untuk jujur dan percaya, percaya akan cahaya masing-masing. Setiap individu memiliki cahayanya masing-masing, begitupun dengan ksatria. Ksatria memberikan cahayanya pada kupu-kupu, ksatria yakin itu yang terbaik. Meskipun ada sang burung, namun ksatria yakin sang burung mudah menemukan langit, dan sang ksatria telah memutuskan untuk mencari langitnya sendiri. Langit yang ksatria rasa tak sama dengan langit sang burung, namun langit yang sama dengan langit kupu-kupu. Langit yang jujur dan menyimpan harapan sang ksatria...
Ksatriapun lebih ceria, ceria menuju langit bersama kupu-kupu, tak perlu memakai perisai kaku untuk melindungi dari segala ketakutan, tak perlu menunggang kuda untuk berambisi menjadi yang terdepan, dan tak perlu memakai topeng untuk menunjukkan kegarangannya yang dibuat-buat. Sang ksatria cukup memakai baju zirah yang menunjukkan jadi dirinya, dan menggunakan pedang sebagai dasar dia berperang. Semua pasti lebih baik saat diri mendengar kata hati, karena hati tak pernah bohong. Sekarang tergantung dari diri apakah mau menerima kejujuran itu...
^_^
by Aldhita Triasmoro Rahardjo
-my lovely sleepy knight-
Kamis, 17 Maret 2011
symphony

Padu padankan keterpisahan pikiran dengan keinginan tubuh menjadi satu keutuhan. Agar kesadaran penuh lantas luwes seperti bayi baru lahir, mawas diri. Mengasihi dengan tulus tanpa menginginkan pamrih di tiap kondisi. Mempengaruhi tanpa bermaksud mengendalikan, apalagi menguasai tetapi memberikan advokasi versi sendiri. Mewaspadai tanpa membatasi, menjaga agar tak melukai. Selalu bersikap mengalah sekaligus tegas, tanpa merantai makna lugas.
Sembari memperhatikan dan memahami, juga menahan diri dari anarkhi. Memberi inspirasi, memupuk tanpa memiliki. Memimpin dengan seolah mengikuti, dengan memberi alur pasti agar mereka mampu berkreasi dan tetap mencintai inti. Tetap sunyi karena yang terbaik itu tersembunyi. Hanya untuk satu tujuan, ketenangan hati kekasih sejati.
Terangkai dalam sebuah simfoni ilahi, meski sering tak dipahami.
The way of mystifies.,
Sesuatu yang tampak seolah tak berubah.
Sesuatu yang tertinggal seolah untuk selamanya.
Yang nyata-nyata hanya barang fana, bukan esensi sesungguhnya.
Lantas merajut serpih untuk menjadikanya karya yang berkuasa.
Mengosongkan lalu memenuhinya dengan kapas nur berdaya serap tinggi, lengkap dengan biji kapas keras dengan kuantitas tak berarti. Saat tersentuh jemari sensasi lembut menyeruak memenuhi nurani. Lupakan hasrat untuk meremas, agar sirkulasi tak tersendat oleh petir yang tegas.
Menggenggam erat benih mimpi membuat smakin tercekat, untuk menjadi kuat.
Berawal dari belas hati timbullah kekuatan, dari kecukupan timbullah kemurahan hati, dari kerendahan hati timbullah kepemimpinan penuh sinergi.
Segalanya bersumber dari misteri yang distimulus untuk berkembang pesat ke arah yang sesuai kodrat. Memicu dengan memacu reboisasi di tataran hutan percaya diri yang kerap abrasi. Lalu menyala melahap logika menyisakan abu rasa yang tak tau akan disemayamkan dimana.
Hasrat mengkerut meledak-ledak takut hanyut, terlupa koloni yang tak pernah lelah menyemangati. Dan skarang, saat materi telah tersaji luluh lantaklah ketakutan oleh keyakinan jalan pewarna lazuardi, karena kepercayaan buah misteri tak lagi sendiri.
-redly note-
tentang hati.,


