Rabu, 18 Maret 2009

seperti sebelumnya hidupku hambar.,
tapi berubah dalam seminggu terakhir ini.,
Andreas Arya Chandra Rhio Mealdy, Yaya'.,
Begitu aku memanggilnya.,
cowok 19 tahun, pintar dan baik hati.,
dia yang mengisi hari-hariku.,
menyedihkan.,
oase.,
aku seperti mendapatkan oase dalam cerita -mungkin- cintaku.,
yang pasti cowok berkacamata itu sudah bisa membuatku menangis dalam seminggu berkenalan dengannya.,
diperhatikan, diberi waktu, dikasihi, disayangi, dipuji.,
memang amat sangat menyenangkan.,
menggoda hatiku untuk kembali bekerja.,
Kristina.,
teman sekelasku di kampus yang nggak henti support aku untuk bangkit dari cerita lama yang terus menyiksa.,
percuma.,
kristina salah.,
aku juga salah.,
aku hanya kebetulan mirip.,
untung aku belum benar-benar memberikan perintah hatiku.,
aku bisa tertawa harusnya.,
tapi kenapa yang keluar justru air mata?

Wilis., 9 Maret 2009

Kamis, 12 Maret 2009

sedikit waktu yang kau miliki
luangkanlah
untukku
secepatnya datangi aku
sekali ini kumohon padamu
ada yang ingin kusampaikan
sempatkanlah
tak ada tanda kehadiranmu
hampa kesal dan amarah seluruhnya ada di benakku
seketika
hati yang terluka oleh mu
ku ingin marah
melampiaskan
tapi kuhanyalah sendiri disini
ingin kutunjukan pada siapa saja yang ada
bahwa
hatiku kecewa
terluka

kali ini saja aku ingin berkata-tepat hari itu

wahai Tuhan
aku tahu kita tidak saling bicara
tapi tentunya Kau masih ingat aku
sebagaimana aku tak pernah menyangkalMu
dan jika ini detik-detik penghabisanku
maka bebaskan aku berkata semauku
izinkan aku kesal padaMu di dalam kepasrahanku
sepanjang hidup Engkau selalu membingungkan
dengan cara-caramu yang aneh Kau tunjukkan keagungan
Kau dengan teka-tekimu bernama takdir
bahkan di saat seperti ini
ada saja caraMu membuatku tertawa sekaligus tersindir

after all

aku ingin kembali kehari-hari, hati-hati berbentuk miring digambar di atas kertas dengan matahari seperempat di sudut kanan atas, leret cahaya jingga dan merah menerpaku ke saat ketika "dia mencintaiku" selalu muncul dan tak pernah "dia tidak mencintaiku" hari-hari kembang sederhana, titik merah di tengah-tengah terlalu banyak, kelopak bunga warna kuning dan daun-daun tak simetris di tangkainya yang panjang.,

ketika petak-petak permainan "engklek" menghias jalanan hitam dengan gores kapur nan tebal warna merah jambu, suatu masa saat lonceng penjual es dan gesekan biola arbanat berarti keasyikan ekstra yang istimewa di sore nan lembab.,

hari-hari ketika putih, hitam dan biru dan hijau dan abu-abu dan orange hanyalah warna-warna tanpa makna, bukan ujian pengadilan untuk golongan, kala boneka-bonekaku sarat cinta dan penghiburan, telinga kanannya bergayut pada dua untai benang merah tipis.,

aku ingin kembali ke es krim piknik penuh jeli dan roti berbentuk segitiga dan keripik singkong yang keras sekalipun kala hasil ulangan harianku memperoleh tempat utama di pintu lemari buku meja belajarku, saat menghirup aroma tanah basah di atas rerumputan yang baru dipotong sembari mencabut mahkota-mahkota merah bunga sepatu, bermain bersama anak tetangga sampai ke masa menyusun balok-balok kayu dan adik laki-lakiku menghancurkannya.,

aku ingin kembali ke hari itu, yang kini tinggal gambar-gambar dalam album foto warna coklat yang berdebu, ingin aku menjadi pecundang, tinggal disana dan tak pernah kembali lagi.,

MBYK



semua berubah
semua makin tak terarah

aku hancur
aku lebur

hanya tangis
hati yang miris -tersisa-

aku kembali

mawar biru yang kesepian

Selasa, 30 Desember 2008

blue print

Sewujud bangunan hadir di setiap kepala, tujuan yang mendenyutkan nyawa ke dalam cetak biru. Satu demi satu mimpi baru tersusun rapi, berlandaskan fondasi mantap, terekatkan semen yang kuat. Lalu bangunan itu dilengkapi dan digenapi, sampai lahirlah utuh ke dunia materi.

Setiap kepala memiliki rancangan bermacam-macam, pilihan bahan yang berbeda-beda. Ada yg bahagia dengan gubuk sederhananya, ada yang baru terpuaskan dengan julangan menara atau istana.

Dalam jutaan bangunan yang ada, pastikan milikmu ada di sana. Sekalipun bukan yang terkemuka, tapi senyata bulan di pembuka candra. Karena banyak batu terbengkalai di sekitar bangunan tak selesai, karena banyak penumpang di teras rumah orang, dan tak ada bangunan yang nyata hanya oleh ancang-ancang.

Mimpi tak berlengan, tetapi akan selalu ada jika engkau menginginkan. Ketika badai datang atau api menelan bangunanmu, batu-batu itu tak akan hancur atau jadi abu. Mereka hanya menunggu uluranmu, kekuatan hatimu, dan satu lagi rancangan blue print mu.

Minggu, 28 Desember 2008

cuaca

Membicarakan cuaca.

Cuaca bagi kami adalah metafora. Menanyakan cuaca menjadi ungkapan yang digunakan saat masing-masing pihak menyimpan hal lain yang gentar diutarakan.

"bagaimana cuacamu?"
"aku biru"
"aku kelabu"

Keangkuhan memecah jalan kami, kendati cuaca menalikannya. Kebisuan menjebak kami dalam permainan dugaan, lingkaran tebak-menebak, agar yang tersirat tetap tak tersurat.

"bagaimana cuacamu?"
"aku cerah, sama sekali tidak berawan. Kamu?"
"bersih dan terang. Tak ada awan."

Batinku meringis karena berbohong. Batinya tergugu karena telah dibohongi. Namun kesatuan diri kami telah memutuskan demikian: menampilkan cerah yang tak sejati karena awan mendung tak pantas jadi pajangan.

Cuaca demi cuaca melalui kami, dan kebenaran akan semakin dipojokkan. Sampai akhirnya nanti, badai meletus dan menyisakan kejujuran yang bersinar. Entah menghangatkan atau menghanguskan.