Rabu, 24 April 2013

mungkin siapa?

Siapa orang asing ini
Mengetuk bimbang, pintu kasa di muka rumahku
Diliriknya jam tangannya
Gelisah
Tepat waktu
Siapa laki-laki ini
Duduk di seberang meja, di rumah makan keluarga setempat
Dimana aku di dalamnya
Sekali lagi diliriknya jam tangannya
Memastikan
Siapa sosok dihadapanku ini
Kujaga perkataanku
Entah mengapa
Pendapatnya mestinya tak penting buatku
Siapa jiwa yang tampak tak acuh ini
Gagap mengucapkan kata-katanya
Serta merta mengira dia punya hak melakukannya
Siapa anak di depan cermin itu
Remaja yang matanya tak lagi bercahaya
Hilang asa
Namun kini melirik kiri kanan, menuntut keadilan
Tak yakin terhadap apapun
Teristimewa satu itu
Yang ada hanya mengapa
Mengapa
Untuk terluka
Menangis tanpa suara
Mencari dunia
Dan mencinta sebuah semesta
Jangan lupa, tak perlu ada asa
Musnah
Hancur lebur beterbangan
Kepercayaan
Kesetiaan
Kasih sayang
K
Fiuh..
Tiada.


*semacam puisi beberapa tahun silam
Published with Blogger-droid v1.7.4

Senin, 22 April 2013

I will recover. For sure. No matter what. Amazing self-confidence? It's not self-confidence, it's a fact.
^_^
Published with Blogger-droid v1.7.4
It can't go well, right? Life.
There aren't any good things, are there?
Even if you live. That's not how it is, is it? You think that, tomorow will be better than today, don't you? But.. actually, it isn't that way, right? Because that's how the world works. It's steadily getting worse, isn't it? Politicians don't take responsibility, and disturbing crimes are increasing. By thingking that way, I consent to all this. That's not just me. If I don't..I wouldn't be able to go on. There isn't a tomorow. That is better than today.
Published with Blogger-droid v1.7.4

Senin, 26 November 2012

Tukar Cangkir.

Ingin aku menatap mereka berdua. Antara percaya dan tidak atas apa yang kulihat. Meski mereka bolak-balik bicara tentang cinta dan kasih sayang, yang kurasakan detik itu adalah sebaliknya. Mereka tengah menikamku. Berkali-kali.
Potongan-potongan ingatan ganjil yang selama ini tersebar acak mendadak memiliki kejernihan. Semua yang selama ini kutangkap, kubaca selewat, dan kupendam karena rasanya tak nyaman, akhirnya beroleh konteks yang sempurna. Baru sekarang segalanya menjadi jelas. Selama ini aku buta.
"Kamu akan menyesal."
Dalam sekejap, rekaman masa-masa waktu kami bersama kembali terulang. Kepalaku pening. Segitu saja? Sesederhana itu? Tahunan kepercayaanmu padaku raib? Kuatur nafasku untuk bersuara seperti biasa, sekadar untuk bisa berkata kepadanya, "Saya nggak ngerti kamu ngomong apa."
Itu sudah jelas. Tapi posisinya teramat pasti. Dia segalanya. Dia sahabatku. Dia harapan hidupku di Bumi yang sekarat ini. Saya benar-benar nggak ngerti kamu ngomong apa.
Limbung. Inikah tanggal itu? Tanggal yang akan kulingkari di agendaku, kalau saja aku tidak punya agenda, mungkin rasanya tak sesakit ini.
Kupercepat nafasku. Aku salah, rutukku. Ada atau tidak agenda sakitnya akan tetap seperti ini. Persahabatan buatku menembus batasan waktu. Menembus batasan akal. Karena itulah, aku buta. Tak kulihat apa yang seharusnya sudah lama terlihat.
Bagai robot, kueksekusi daftar dalam kepalaku dengan rapi. Mendapatkan hidupku kembali muat dalam diriku sendiri. Salah satu. Siapa saja. Aku butuh tempat bicara. Tempat berpijak. Ternyata aku masih punya cadangan sejumput nasib baik. Kesibukan.
Aku akan meminum kopi susu encer saja.
Di kepalaku masih berputar berulang-ulang kalimat mereka. Aku betulan tak memahami omongan mereka. Sama sekali.
Kalimat wanita itu sungguh tak masuk akal. Jika dia tidak bermaksud menyakitiku, jelas ada satu persimpangan dalam keputusannya yang akhirnya menempatkan aku sebagai orang yang disalahkan, yang disakiti dan dia sebagai pihak yang paling benar, pihak yang menyakiti. Bagaimana dia bisa bilang dia tak punya niat itu? Dan, kenapa dia tak mengatakan dari awal, padahal aku hampir membusuk demi membantunya?
Menyesal?
Omong kosong. Pengkhianatan ada dalam batin tiap manusia, hanya menunggu momen yang tepat untuk menyeruak, dirayakan, dan diamini sebagai titik lemah dari kemanusiaan. Mengatakan bahwa ia yang bertanggung jawab adalah kebodohan dan kesombongan. Mungkin Dia adalah semacam Brutus dalam sejarah Romawi, orang yang didesain untuk menancapkan belati ke punggung, menembus jantung, dan terkaparlah aku akibat pengkhianatannya. Sekaligus ibarat Iago dalam pentas Othello, orang terdekat yang dirancang untuk mengingkariku secara keji dan sistematis. Virus yang disusupkan ke dalam sistem. Dorman, tak berdosa, membuai kita hingga waktunya tiba untuk bangun dan menyerang tanpa ampun. Keping percaya.
Kembali, orang terpenting dalam hidupku, terbukti mampu melambungkanku tinggi sekaligus menghancurkanku sekali jadi. Lagi-lagi aku kalah berjudi.
Detik itu aku berhenti meminum kopi pekat. Menangis sejadi-jadinya di depan satu cangkir kopi susu encer.

*little change n adapt.
Published with Blogger-droid v1.7.4

Sabtu, 24 November 2012

zrh

Engkaulah keheningan yang hadir sebelum segala suara
Engkaulah lengang tempatku berpulang

Bunyimu adalah senyapmu
Tarianmu adalah gemingmu

Pada bisumu, bermuara segala jawaban
Dalam hadirmu, keabadian sanggup mengecup

Saput batinku meluruh
Tatapmu sekilas dan sungguh
Bersama engkau, aku hanya kepala tanpa rencana
Telanjang tanpa kata-kata

Cuma kini
Tinggal sunyi

Dan, waktu perlahan mati



(catatan kecil [ibu suri] saat langit kelabu di taman bambu)
Published with Blogger-droid v1.7.4

Minggu, 04 November 2012

89

Problem terbesar adalah mempercayai spesies "Homo Sapiens". Termasuk diriku sendiri. Padahal, manusia terlahir ke dunia dibungkus rasa percaya. Tak ada yang lebih tahu kita ketimbang plasenta. Tak ada rumah yang lebih aman daripada rahim ibu. Namun, di detik pertama kita meluncur keluar, perjudian hidup dimulai. Taruhanmu adalah rasa percaya yang kau lego satu per satu demi sesuatu bernama cinta. Aku penjudi yang buruk. Aku tak tahu kapan harus berhenti dan menahan diri. Ketika cinta bersinar gemilang menyilaukan mata, kalang kabut aku serahkan semua yang kumiliki. Kepingan rasa percaya bertaburan di atas meja taruhanku. Dan aku tak pernah membawa pulang apa-apa.
Rasa percaya itu menghilang dalam tiga pertaruhan besar. Pertaruhan pertamaku amblas di tangan manusia pertama yang kucinta di atas bumi ini: Ayah.
Published with Blogger-droid v1.7.4

Kamis, 18 Oktober 2012

romantic words from a good man..

And I would've done anything for you, to show you how much I adored you
But it's over now,It's too late to save our love...
Just promise me you'll think of me every time you look up in the sky and see a star
when u'll be great mom for all my kids, its enough... :)
i am open mindset...
Published with Blogger-droid v1.7.4