Kamis, 27 Januari 2011

Alloh q..Maafkan aq..


Aku minta pada Allah setangkai bunga segar, Ia beri aku kaktus berduri…

Aku minta pada Allah binatang yang mungil dan cantik, Ia beri aku ulat berbulu…


[Aku sedih, protes, kecewa, betapa tidak adilnya ini…]

Namun kemudian…,

Kaktus itu berbunga indah, bahkan sangat indah..

Ulat itu tumbuh berubah menjadi kupu–kupu yang sangat cantik

Kadangkala Allah hilangkan sekejap matahari,

kemudian Dia datangkan pula guruh dan petir,


[puas kita menangis mencari dimanakah matahari??]


Ternyata Allah ingin hadiahkan kita pelangi

Itulah jalan Allah,

indah pada waktunya Allah tidak memberi apa yang kita harapkan,

tapi Dia memberi apa yang kita perlukan..


kalo kita meminta ikan paus,

Allah kasih samudra dengan ombak yang besar...

kalo kita minta kekayaan, Allah kasih kemiskinan yang berat agar kita bisa kaya lewat usaha sendiri kalo kita minta jadi orang berhasil, Allah terus kasih Masalah agar kita bisa berhasil menyelesaikannya..

[Kadang kita sedih, kecewa, terluka…]

Tapi jauh di atas segalanya, Dia sedang merajut sesuatu yang terbaik untuk kehidupan kita

Yakin saja sama Allah... dan berusaha.. jangan hanya berdo'a saja karena Allah hanya memberi fasalitas, kita yang memanfaatkan fasilitas tersebut dan ketika ada masalah janganlah berkata "Wahai Allah, Masalahku sangatlah Besar!!"

tapi katakanlah "Wahai Masalah!!! Allah Itu Maha Besar!!!!"

yakin saja sama Allah karena setiap masalah Insya Allah dapat diselesaikan jika kita mau bekerja dan syukurilah apa yang kita punya.


Jangan menunggu bahagia baru bersyukur,

tapi bersyukurlah,

maka kita kan bahagia... ^_^

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah:216)



-a note by my inspiring teacher-

Satia Nur Maharani

Kamis, 20 Januari 2011

Karena cinta tidak harus dalam bentuk bunga


Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan - alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar - benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian. "Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan" Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?".

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok." Hati saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan coret - coretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan....

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari - jari saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."

"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang."

"Kamu suka jalan - jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat- tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu."

"Kamu selalu pegal - pegal pada waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami."

"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."

"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna - warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".

"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku."

"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bias mencintaimu lebih dari saya mencintaimu."

"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu.Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya. "Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu."

"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.".

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku. Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.Itulah cinta, di saat kita merasa
cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".




Sent from my iPhone
-Tanpa Nama-

Rabu, 12 Januari 2011

-bahwa cinta itu ada-


kau datang membawa segala rasa dan kata yang kau pikir itu cinta.,
kau juga membawa segala janji dan mimpi yang kau kira itu cinta.,

kisah indah kita bagai dewa-dewi.,
tak perlu alasan tuk saling cinta.


tawa canda.,

sakit hati.,

hati rindu.,

air mata.,


semua nyata karena kita.,
ketika cinta ada.,


makianku.,

cemburumu.,

ocehanku.,

amarahmu.,


..nikmati..

dan katakan selamat datang cinta..









^_^
*bahwa cinta itu ada.,
apapun bentuknya.

Rabu, 15 Desember 2010

It's not bird in the hand.,


melihat artinya dibutakan oleh warna-warni, mendengar artinya ditulikan oleh suara, mengecap artinya dihambarkan oleh perasa. semua hal yang mengacaukan berpikir hanya oleh perbuatan mencari-cari, hasilnya hanyalah berbuat yang diuraikan oleh ketergesaan menghancurkan.
menjadikannya tenang dalam memperhatikan yang di dalam, bukan yang di luar, apa yang tidak kentara dan bukan yang menyolok. dituntun yang di dalam dan bukan yang di luar, oleh pengenalan batiniah bukannya bentuk lahiriah. memperhatikan hanya dari bentuknya, sampai kapan pun kedalaman batin takkan ditemukan.
memberi materi tanpa berharap puji, tanpa takut dikritik-caci maki. berdiri sendiri tanpa berharap dituntun melalui dukungan atau penolakan, belajar tanpa mengharapkan keuntungan, lalu mengendalikan hasrat. melakukan kebaikan tanpa alasan.
berusaha mencari yang sederhana di dalam yang rumit, yang biasa di dalam yang luar biasa, yang damai di dalam yang kacau, yang kosong di dalam yang penuh, yang terbesar di dalam yang terkecil.
menghargai tiap inchi untuk menjaga substansi.


-redly note-

Minggu, 28 November 2010

Secangkir kopi.,


Langkah yang seolah tak terpacu, senyum yang penuh arti. Kadang membuat canda, kadang membuat kecewa.

Rasa tidak seharusnya diajari.
Rasa tidak seharusnya dibatasi.
Rasa tidak seharusnya dipagari.

Masa tidak jelas dimulainya.
Masa tidak jelas dinikmatinya.
Masa tidak jelas diakhirinya.

Ketika rasa itu tumbuh, pada masa yang dianggap salah.
Ketika rasa itu harus luruh, pada saat rasa menabur benih yang paling jujur.
Ketika masa mengakhiri semuanya, pada saat rasa terlanjur diajari, dibatasi dan dipagari.

Kerinduan atas mimpi, kerinduan atas ketidaknyataan, karena hidup dan sakit.
Bukan hidup tanpa api, bukan hidup tanpa sentuhan, bukan hidup tanpa rasa.

Bauran dalam secangkir kopi.



^_^

Jumat, 12 November 2010

Pray for Indonesia.,

Stop shouting and don’t get mad., calm down but don’t ever fade., don’t you cry don’t lose faith., you’ve got me so stay calm., what is wrong its alright., everything will work out fine., see the sun coming out..take a ride burn your hate.,

Don’t give up cause I am here to stay., stay alive we will survive.,
Don’t hide because I am here to stay., stay alive we will survive.,

Look at my face one more time..
Look at your face one more time..

Tell me that you care...

-eventhough this is not the last time-

Selasa, 02 November 2010

Anomali sudut pandang.,


Keindahan membutuhkan keburukan. Kebaikan memerlukan kejahatan. Sama halnya dengan rasa manis yang ada karena orang pernah merasakan pahit. Orang bijak pun tak akan pernah ada tanpa orang yang arogan.

Arogan mengarah kesegala yang berlebihan, mengacu pada titik maksimum yang kita bayangkan. Terperangkap oleh labirin imajinasi dan terbebat benang merah yang diciptakan sendiri yang berdampak pada perbuatan nyata dalam satu sama lain. Sadarkah, mereka yang merasa telah mengenal diri justru terkadang mereka yang tak tahu diri.

Sayangnya tak ada patokan atau ukuran untuk menggambarkannya.

Pernah mendengar dendang merdu berbunyi "tak selamanya..mendung itu kelabu. Nyatanya..hari ini kulihat begitu ceria.."? Sepenggal syair dengan pesan yang maha dasyat. Mengajarkan untuk berhenti menelan mentah-mentah segala yang harus kita telan, tetapi menjilatnya dan mencecapnya terlebih dahulu.

Arogan tidak selalu berlawanan dengan orang bijak. Arogan merupakan wujud dari amplitudo hati tiap manusia-meskipun fokusnya kurang tepat. Mereka yang seolah arogan bisa jadi mereka yang membutuhkan support tapi tak mendapatkan. Ingin pintar, lalu berlagak lebih pintar dari orang lain, padahal mereka tidak tahu ukuran ke'pintar'an dalam suatu komunitas. Tidak dapat disalahkan.

Arogan tak ubahnya dengan idealisme yang kelebihan kadar. Merasa paling benar di atas kebenaran, padahal kebenaran 100% relatif.
Ketika mampu dikendalikan, arogan bisa menjadi power yang mendukung potensi diri. Power tak tampak yang justru merupakan vibrasi kuantum maksimum yang tak terlihat, sumber dari segala yang nyata.

Tergantung dari sisi mana mulai menarik benang merahnya.

Ada baiknya kalau kita tidak sembarangan menempelkan label 'arogan' tanpa audit personal yang cukup, karena itu hanya akan mengundang boomerang kembali secepatnya, apakah salah ketika ada yang bilang : orang yang menilai orang lain arogan itu adalah orang yang merasa lebih dari 'orang malang' yang telah dianugerahinya label arogan, wujud derivatif arogan sesungguhnya?



-redly note-
a request